The Right Question
Isn't Whether
It Worked.
It's whether what worked is repeatable, attributable, and structurally healthy — or whether April was a payday-driven sugar high we mistook for a system. This brief separates one from the other, and tells you what to do on Monday.
Period Compared
13–19 Apr
vs
20–26 Apr 2026
Week 3 baseline → Week 4 (Payday)
Channels: Meta, CPAS Shopee, Iklan Shopee, GMV Max
01
Executive Verdict Shareable with MIL
Apa yang sebenarnya terjadi di W4, dibaca dari grand total — bukan dari narasi per slide.
01 — Investment
Total Paid Media Spend
Rp 23.95Mtotal weekly spend
Meta Boost Rp 3.57M
Meta Non-Boost Rp 3.11M
CPAS Shopee Rp 1.63M
Iklan Shopee Rp 10.05M
GMV Max Rp 5.59M
↓ ↓ ↓
Buys awareness · CPM blended Rp 9,231
02 — Awareness
Impressions Delivered
2.59Mimpressions across all channels
Meta Boost 609K
Meta Non-Boost 204K
Shopee Iklan Dilihat 217K
CPAS Shopee 103K
GMV Max ~1.46M est
↓ ↓ ↓
CTR blended 1.04% · Cost per Click ~Rp 889
03 — Interest
Clicks & Profile Visits
26,945clicks & profile/page visits
Meta Boost 15,934
Meta Non-Boost 2,973
Shopee 7,116
CPAS Shopee 762
+ TikTok in-app traffic
↓ ↓ ↓
Click → LPV 15.7% · only ~1 in 6 clicks reach product page
04 — Consideration
Landing Page Views & View Content
4,225LPV / View Content events
Meta Boost LPV 256
Meta Non-Boost LPV 1,708
CPAS View Content 2,261
↓ ↓ ↓
LPV → IC/ATC 23.2% · mid-funnel relatif sehat
05 — Intent
Add to Cart & Initiate Checkout
978cart & checkout events
Meta Non-Boost IC 557
CPAS Shopee ATC 421
↓ ↓ ↓
IC → Purchase ~111% · cross-channel attribution mismatch
06 — Conversion
Orders Placed (excl. Meta)
1,092orders (Meta-attributed: unknown)
CPAS Shopee 103
Iklan Shopee 655
GMV Max 334
↓ ↓ ↓
AOV blended Rp 127,289
07 — Outcome
Attributed Revenue
Rp 139.0Mmeasured weekly revenue
CPAS Shopee Rp 11.99M
Iklan Shopee Rp 84.68M
GMV Max Rp 42.35M
Reported Blended ROAS
5.81×
Revenue / Total Spend (incl. Meta)
ROAS Excl. Meta Spend
8.05×
If Meta = pure awareness, untracked
Hidden Meta Spend
Rp 6.68M
28% of spend, 0% measured rev
Cost per Order (Blended)
Rp 21,933
Total spend / orders measurable
↗ Insight — Apa Yang Funnel Beritahu
- Mid funnel sehat secara konsisten. LPV→IC 23.2% adalah angka kuat. Sekali audience reach product page, intent terbentuk dengan baik. Ini mengindikasikan product-pricing-imagery sudah on point.
- Bottom funnel terkonsentrasi di marketplace ads. Iklan Shopee menyumbang 60% dari total orders, GMV Max 31%, CPAS hanya 9%. Ini bukan diversified portfolio, ini single-channel dependency dengan Iklan Shopee sebagai backbone.
- Marketplace ads efisien, Meta tidak terbukti efisien. Iklan Shopee ROAS 8.42, GMV Max ROI 7.58, CPAS 7.34 — semua menghasilkan revenue terukur. Meta menghasilkan traffic dan engagement, tapi nilai ekonominya tidak terverifikasi.
- Hero SKU melakukan heavy lifting. Jika dibreakdown ke level SKU, Live + Naked in Bubbles + Bath Bomb = 85% spend share GMV Max. Diversifikasi product yang menghasilkan revenue masih dangkal.
⚠ Blind Spot — Apa Yang Funnel Sembunyikan
- Click-to-LPV 15.7% adalah kebocoran terbesar. 84% klik berbayar tidak pernah mencapai product page. Ini bisa landing experience friction, app deep-link broken, atau creative-to-product mismatch. Tidak satu pun slide MIL membahas angka ini.
- IC→Purchase 111% adalah anomali measurement. Orders > IC events karena IC hanya tracked di Meta+CPAS, sementara orders datang dari semua channel. Ini bukti measurement infrastructure inkonsisten — funnel tidak bisa dibandingkan apple-to-apple.
- "ROAS Excl. Meta 8.05×" bukan win, itu pertanyaan terbuka. Apakah Rp 6.68M Meta spend menghasilkan demand creation yang sustainable? Atau itu cost yang sebaiknya dialihkan ke marketplace? Tidak ada data untuk menjawab.
- Funnel ini adalah snapshot W4 — payday week. CTR, CVR, dan AOV semua di-amplify oleh momentum gajian nasional. Funnel yang sama dijalankan di W2 atau W5 (post-payday slump) akan terlihat sangat berbeda. MIL tidak menyajikan funnel multi-week untuk kontekstualisasi.
- Tidak ada incrementality pada marketplace ads. Iklan Shopee dengan ROAS 8.42 adalah sebagian besar retargeting orang yang sudah aware Maiimi. Berapa % yang akan tetap purchase tanpa ads? Tidak diketahui. True incremental ROAS bisa 30-60% lebih rendah.
Question List untuk MIL — Joint Review Meeting
Pertanyaan terstruktur berdasarkan blind spot funnel. Bawa list ini ke meeting dan tracking siapa yang menjawab dengan data vs siapa yang menjawab dengan narasi.
-
Attribution
Mengapa Meta tidak dilaporkan dalam attributed revenue, dan kapan Conversions API + UTM tracking bisa di-deploy?
Maiimi spend Rp 6.68M/minggu di Meta tanpa angka revenue. Tanpa attribution, keputusan continue/stop Meta tidak punya basis data. Cari komitmen timeline konkret, bukan "akan diusahakan".
-
Funnel Leakage
Click-to-LPV blended 15.7%. Apa hipotesis MIL tentang penyebab 84% klik tidak sampai ke product page?
Ini angka funnel yang paling bocor dan tidak pernah disebut di slide MIL. Kalau MIL tidak punya hipotesis, artinya funnel diagnosis mereka tidak holistic — hanya per-channel.
-
Methodology
Bagaimana "Scale Up Point" di Product Spending Report dihitung, dan asumsi AOV / margin / target ROAS apa yang dipakai?
Setiap series berstatus "Action Needed" — ini suspicious. Kalau threshold tidak transparan, MIL selalu punya alasan untuk meminta perubahan creative atau budget reallocation.
-
Comparison Bias
W3 vs W4 comparison di-amplify oleh payday effect. Bisa MIL sediakan W4 Apr 2026 vs W4 Mar 2026 atau YoY untuk apple-to-apple read?
Comparison W3-vs-W4 within same month menyembunyikan musimanitas dan menguntungkan agency narrative. MoM atau YoY adalah comparison yang neutral.
-
Incrementality
Apakah MIL bersedia menjalankan holdout test 10% audience selama 2 minggu untuk mengukur incremental ROAS Iklan Shopee?
ROAS 8.42 yang dilaporkan kemungkinan sebagian besar adalah retargeting audience yang akan beli juga organik. True incremental value perlu test, bukan asumsi.
-
Attribution Conflict
IC 978 vs Orders 1,092 menghasilkan rate 111%. Bagaimana MIL menjelaskan inkonsistensi tracking ini, dan apa rencana standardisasi?
Ini bukti measurement infrastructure inkonsisten across channels. Tanpa standardisasi, KPI lintas-channel tidak comparable dan optimization decision berdasarkan apples-to-oranges.
-
Halo Effect
Bagaimana MIL memisahkan kontribusi paid ads vs halo effect dari KOL/affiliate (Sekduyung dkk) terhadap ROAS yang dilaporkan?
MIL menyebut "Sekduyung tidak lagi seagresif" sebagai risk — ini admission bahwa affiliate halo memang berkontribusi ke ROAS ads. Quantify atau akui blind spot.
-
Profitability
ROI 7.58 di GMV Max bagus, tapi setelah dikurangi COGS, MDR Shopee, dan fulfillment — berapa contribution margin per order?
ROAS ≠ profit. Bundle BB HMNS dengan +211% konversi kemungkinan punya margin lebih tipis. MIL harus merancang report yang sampai contribution margin, bukan berhenti di ROAS.
-
Channel Concentration
Iklan Shopee = 60% orders, GMV Max = 31%. Apa skenario kontingensi MIL kalau Shopee mengubah algoritma ads atau menaikkan MDR?
Single-channel dependency adalah structural risk. MIL perlu punya thesis tentang diversifikasi, bukan hanya optimize channel yang sudah dominan.
-
Scope
Mengapa Mini Maiimi tidak ada dalam report ini? Apakah Mini Maiimi termasuk scope kontrak, dan kalau ya, mana datanya?
Mini Maiimi target Rp 62.5M GMV/bulan butuh performance marketing yang setara. Kalau MIL tidak handle, harus jelas siapa yang handle. Kalau handle, gap reporting harus dijelaskan.
GMV Max ROI
7.58
▲ +27.4%
5.95 → 7.58, di atas ROT 8.34? Belum
CPAS Shopee ROAS
7.34
▲ +61.8%
4.54 → 7.34, di atas ROT 6.59? Ya
Iklan Shopee ROAS
8.42
▲ +9.0%
CPM naik +17%, tapi CVR ikut naik
Meta Boost CTR
2.62%
▼ -14.2%
Saturation signal — frequency 1.25 → 1.39
Verdict
—
Mixed Signals
W4 bagus secara angka, tapi tidak bagus secara struktur.
Tiga dari empat channel naik. Tapi kenaikan W4 didorong tiga hal yang tidak permanen: (1) momentum payday, (2) bundling collaboration HMNS yang sifatnya event, dan (3) Live yang scale dari Rp1.49M → Rp2.80M cost. Kalau ketiganya hilang di W1 Mei, performa bisa turun 30-50% tanpa ada yang menahan.
Meta — channel foundational demand creation — justru menunjukkan audience saturation: frequency naik, CTR turun, Cost/IC dan Cost/LPV semua di atas ROT pada SEMUA series tanpa kecuali ("Action Needed" di seluruh baris tabel MIL). Ini bukan masalah taktis. Ini masalah sistemik.
Keputusan W1 Mei: Lanjutkan kontrak MIL untuk 1 bulan lagi (kondisional), dengan 4 deliverable wajib (lihat §07). Hire Internal Performance Marketing diaktifkan jika W4 Mei tidak menunjukkan perbaikan structural di Meta funnel.
02
Channel Health Scorecard Shareable with MIL
Performa W4 dibandingkan dengan ROT yang sudah disepakati di Strategic Direction 2026.
| Channel |
W3 Cost |
W4 Cost |
Δ Cost |
W4 ROAS / ROI |
ROT Target |
Verdict |
CPAS Shopee Meta → Shopee CPAS |
Rp1,284,587 |
Rp1,632,081 |
+27.0% |
7.34 |
6.59 (Shopee) |
Above ROT |
Iklan Shopee Overall In-platform Shopee Ads |
Rp9,675,919 |
Rp10,051,386 |
+3.9% |
8.42 |
6.59 (Shopee) |
Above ROT |
GMV Max — TikTok Aggregate ROI |
Rp4,242,124 |
Rp5,588,088 |
+31.7% |
7.58 |
8.34 (TikTok) |
Below ROT |
Meta Boost Post IG Engagement-led |
Rp2,254,876 |
Rp3,569,927 |
+58.3% |
— (no rev attr) |
CTR ↑, CPL ↓ |
Saturation |
Meta Non-Boost Conversion campaigns |
Rp1,801,251 |
Rp3,106,894 |
+72.5% |
— (no rev attr) |
CPIC < Rp21K |
All Series ROT-fail |
Catatan struktural: Meta dilaporkan tanpa attributed revenue — yang dilaporkan hanya cost dan upper-funnel metric (Reach, LPV, IC, IG Visit). Ini adalah blind spot #1 (lihat §05).
03
What MIL Got Right Shareable with MIL
Akui dulu yang valid sebelum bicara yang missing — ini bukan diplomasi, ini akurasi.
CPAS Bundling Read
Diagnosis bahwa AOV turun karena bundle BB HMNS & Travel Pack Night Series adalah benar dan akurat. Bundle = lower per-unit price + higher unit count. Cost/Purchase turun -23.5% sambil Purchase Rate naik dari 16.10% → 24.47% adalah indikator marketplace funnel berjalan sehat.
Live as Channel, Not Tactic
Reframing Live dari "traffic support" menjadi "channel utama penghasil revenue" pada GMV Max W4 (cost +88%, order +139%, ROI 7.15) adalah insight strategis yang valid. Ini layak menjadi keputusan resource allocation Q2.
Audience Exclusion Initiative
Action item exclude IG Visit 30D & IG Engaged 45D dari campaign NV adalah respons tepat terhadap saturation signal pada Non-Boost Post. Ini textbook Meta optimization — appropriate diagnosis.
◌ ✿ ◌
04
What The Numbers Really Say Shareable with MIL
Lima pola yang konsisten muncul ketika data dibaca lintas-channel, bukan per channel.
Pola 01 — Konsentrasi Revenue di Tiga Hero SKU
Live + Naked in Bubbles + Bath Bomb = Rp4.77M dari Rp5.59M total cost GMV Max W4 (85% spend share). Naked Under the Clouds dan Bundling generic justru menurun. Implikasi: bukan portfolio ads yang tumbuh, tapi tiga produk yang menggendong. Konsentrasi ini meningkatkan fragility.
Pola 02 — Hero Bundling +211% Adalah Event, Bukan Trend
Maiimi × HMNS Bundle Darker Shades of Orgasm: konversi 9 → 28 (+211%), CVR 5.96% → 14.81%. Angka ini fenomenal — tapi datang dari collaboration launch momentum, bukan dari optimization. Tanpa ada launch baru di Mei, kontribusi ini akan turun ke baseline. Jangan baca sebagai "scalable winning formula".
Pola 03 — Meta Funnel Saturated Across All Series
Status "Action Needed" muncul di 14 dari 14 series di Product Spending Report (Boost + Non-Boost). Tidak ada satu series pun yang berada dalam ROT range. Ini bukan masalah creative per series. Ini masalah reach saturation di audience pool yang sama. Frequency Non-Boost naik 1.25 → 1.39 dalam 1 minggu mengkonfirmasi pool exhaustion.
Pola 04 — Cost Inflation Belum Dikompensasi Conversion
CPM naik di SEMUA channel: CPAS Shopee +16%, Meta Boost +15%, Meta Non-Boost +10%, Iklan Shopee +17%. Yang menyelamatkan adalah CVR ikut naik karena momentum payday. Pertanyaan untuk Mei: kalau CPM tetap tinggi (yang biasanya iya), tapi CVR kembali ke baseline (kemungkinan iya), apakah ROAS bertahan? Jawaban berbasis data: tidak.
Pola 05 — Creative Playbook Sudah Terdeteksi
Tiga winning creative GMV Max (Mahal-mahal nyari hotel, Membalas @Ruum Special PAYDAY) + tiga winning Meta Cost/IC (FLN #4, Lavender "tiba-tiba banjir busa", NBS "Goodbye Odor") konvergen di formula yang sama: visual busa melimpah + emotional pain point + urgency promo. Ini formula yang harus di-systemize, bukan ditemukan ulang setiap minggu.
05
Blind Spots Yang Tidak Disampaikan MIL Internal Only
Ini bukan tuduhan inkompetensi. Ini adalah hal-hal yang struktural agency tidak biasanya bawa ke meeting karena bukan wewenangnya, atau karena mengundang pertanyaan tentang scope mereka sendiri.
01
Tidak ada angka attributed revenue dari Meta — sama sekali.
Mengapa ini penting
Seluruh report Meta (Boost + Non-Boost, 4 slides) hanya melaporkan upper/mid funnel metric: Reach, Impression, Link Clicks, LPV, IC, IG Visit, Cost-per-X. Tidak ada Purchase, ROAS, atau Revenue attribution dari Meta. Artinya Maiimi spend Rp6.7M di Meta W4 (Boost + Non-Boost) tanpa tahu berapa rupiah revenue yang dihasilkan. CPAS Shopee terpisah karena destination berbeda. Ini bukan kesalahan MIL secara teknis — Meta-to-marketplace attribution memang sulit. Tapi konsekuensinya: Maiimi tidak punya basis data untuk memutuskan apakah Meta layak Rp6.7M/minggu.
02
Definisi "ROT Status: Action Needed" tidak punya threshold yang dijelaskan.
Mengapa ini penting
Kolom "Scale Up Point (Cost/IC)" dan "ROT Status" di Product Spending Report menampilkan angka tanpa metodologi. Misalnya: NUTC Cost/IC Rp5,078 vs Scale Up Point Rp3,704 = "Action Needed". Tapi dari mana Rp3,704 itu dihitung? Apakah berdasarkan AOV × margin × target ROAS? Apakah konsisten dengan ROT Strategic Direction 2026 (CPIC <Rp21K)? Kalau Scale Up Point di-set terlalu rendah, semua series otomatis "Action Needed" dan agency selalu punya alasan untuk minta perubahan creative. Maiimi perlu audit threshold ini.
03
Incrementality test tidak ada. Lift dari ads tidak terukur.
Mengapa ini penting
ROI 8.42 di Iklan Shopee tidak menjawab: berapa % dari purchase ini yang akan terjadi tanpa ads? Shopee CPAS dan Iklan Shopee retargeting orang yang sudah pernah view product — sebagian besar dari mereka kemungkinan akan beli juga melalui organic search Shopee, atau melalui notifikasi Shopee. True incremental ROAS bisa 30-60% lebih rendah dari reported ROAS. Tanpa holdout test (turunkan ads di 10% audience selama 2 minggu, ukur revenue gap), Maiimi tidak tahu nilai ekonomi sebenarnya dari spend ini.
04
Comparison W3 vs W4 menyembunyikan musimanitas. Trend baseline tidak ada.
Mengapa ini penting
W4 = payday week (gajian 25-26). W3 = post-mid-month + pre-payday (mood beli rendah). Membandingkan keduanya secara like-for-like menghasilkan artificial uplift. CVR yang naik di W4 sebagian besar adalah efek kalender, bukan efek optimization. Comparison yang valid: W4 Apr 2026 vs W4 Mar 2026 (sama-sama payday week), atau YoY W4 Apr 2025. Comparison W3-vs-W4 within same month adalah comparison yang menguntungkan agency.
05
Bundle BB HMNS yang +211% konversi tidak di-disclose sebagai event-driven.
Mengapa ini penting
Slide "Hero Products Scaled Efficiently" menampilkan kenaikan konversi 9 → 28 sebagai bukti "purchase intent strengthened significantly". Tapi yang sebenarnya terjadi: collaboration launch + payday + bundle discount bertemu dalam satu minggu. Ini event, bukan struktur. Membuat MIL kelihatan sukses lebih besar dari aktual kontribusi optimization mereka. Maiimi perlu memisahkan: berapa kontribusi MIL optimization, berapa kontribusi product launch momentum (yang Maiimi side).
06
Affiliate cannibalization tidak diukur. Overlap dengan KOL/Sekduyung tidak dilaporkan.
Mengapa ini penting
MIL menyebut "penurunan efektivitas affiliate content" sebagai risk, tapi tidak menyentuh pertanyaan reverse: berapa % traffic Meta dan Shopee Ads di W4 yang sebenarnya datang dari awareness KOL/affiliate (Sekduyung dkk), bukan dari ads? Affiliate dan paid media overlap di funnel atas. Kalau affiliate efektif, ROAS ads kelihatan tinggi (free riding). Kalau affiliate turun, ROAS ads turun — tanpa ada perubahan optimization. Ini menjelaskan kenapa "Sekduyung tidak lagi seagresif" disebut sebagai risiko: efek halo affiliate hilang, ads telanjang.
07
Profitability tidak dihitung. ROAS > Profit.
Mengapa ini penting
Semua metric MIL berhenti di ROAS/ROI (revenue/cost ads). Tidak ada gross margin, COGS, MDR Shopee, fulfillment cost, atau contribution margin. Bundle BB HMNS yang menyumbang +211% konversi kemungkinan punya margin yang lebih tipis (karena bundling discount). ROI tinggi ≠ profit tinggi. Per Maiimi 2026 strategy, COGS target <32%. Maiimi perlu cross-reference ads ROI dengan series-level contribution margin sebelum scale.
08
Mini Maiimi tidak ada di report ini sama sekali.
Mengapa ini penting
Report MIL W4 = Maiimi only. Mini Maiimi (kids brand, marketplace + hampers + B2B) tidak disebut. Apakah MIL handle Mini Maiimi? Kalau ya, mana datanya. Kalau tidak, siapa yang handle? Ini gap reporting yang perlu di-clarify dalam scope contract review. Mini Maiimi punya target Rp62.5M GMV/bulan dan butuh attention performance marketing yang setara.
06
Strategic Framework — Macro to Micro Internal Only
Bagaimana harus berpikir tentang allocation Mei berdasarkan W4 read.
Macro Lens — Funnel Health Diagnosis
Diagnosis: funnel Maiimi bottom-heavy. Bottom funnel (CPAS, GMV Max, Iklan Shopee) diberi makan oleh momentum yang tidak diciptakan oleh paid media — payday, KOL halo, bundle launch. Top funnel (Meta) tidak menghasilkan demand baru, hanya re-engaging audience yang sudah saturasi. Retention tidak diukur sama sekali.
Micro Lens — Tiga Kategori SKU
SCALE — Defend Hard
Naked in Bubbles (ROI 9.11), Bath Bomb (11.52), Live (7.15), Romantic Bundle HMNS, Lavender Series Cost/PV Rp135, Feels Like Naked Cost/IC Rp3,381.
Action: stock-up, reserved budget, replicate winning creative formula, jangan eksperimen di SKU ini.
REVIVE — Refresh & Test
NUTC (ROI stabil tapi turun, affiliate Sekduyung melemah), Naked Bath Salt Cost/IC Rp4,499, Romantic Series non-bundle, Luxury Series.
Action: creative refresh, audience exclusion, hook test, tapi cap budget di 70% W4 spend sampai signal jelas.
CUT or PAUSE
Bundling Bubble Bath × Bath generic ROI 1.28 (-77%), Naked Under the Clouds ROI 3.84 (-5.3%), General/#NA Cost/IC Rp8,335 (Boost) & Rp13,580 Cost/PV.
Action: pause minggu ini, redirect budget ke SCALE bucket. Re-evaluate bulan depan.
07
Action Plan — Mei 2026 For MIL For Maiimi
Setiap baris = owner + due date. No "akan dilakukan secara gradual".
Untuk MIL — 4 Deliverable Wajib (Q1 Conditional Renewal)
-
M1
Lapor Meta-attributed revenue, bukan hanya cost & LPV.
Pakai Meta Conversions API + UTM parameter untuk lacak Shopee/TikTok purchase yang berasal dari Meta click. Kalau infrastruktur belum ada, propose timeline 2 minggu untuk setup.
MIL Lead
15 Mei
-
M2
Disclose metodologi "Scale Up Point" dan "ROT Status".
Berikan rumus, asumsi AOV, asumsi margin, dan threshold yang dipakai. Maiimi akan re-validate dengan finance.
MIL Lead
8 Mei
-
M3
Run incrementality test pada Iklan Shopee.
Holdout 10% audience selama 2 minggu (15-29 Mei). Bandingkan revenue per audience dengan group yang ter-expose ads. Output: incremental ROAS, bukan reported ROAS.
MIL Lead
29 Mei
-
M4
Monthly comparison wajib YoY atau month-over-month, bukan W3-vs-W4.
W4 Mei vs W4 Apr 2026 + W4 Apr 2025 (kalau data tersedia). Hilangkan distortion seasonality.
MIL Lead
3 Jun
Untuk Maiimi — 6 Action Internal
-
A1
Cross-reference ads ROI dengan series-level gross margin.
Finance kirim COGS per SKU (NIB, Bath Bomb, NUTC, Bundle HMNS). Marketing kalkulasi contribution margin after ads per series, bukan hanya ROAS. SKU dengan ROAS tinggi tapi margin tipis = bukan winner.
DoS + Finance (Rosina)
10 Mei
-
A2
Audit affiliate × paid media overlap.
Mapping bulanan: minggu di mana KOL Sekduyung aktif vs minggu kosong, bandingkan ROAS Meta & CPAS. Quantify halo effect supaya bisa dipisahkan.
Affiliate Lead + DoS
22 Mei
-
A3
Codify creative formula yang sudah terbukti.
Buat 1-pager: "Maiimi Winning Creative Formula" = visual busa melimpah + emotional pain point hook + urgency promo. Brief ke creative team supaya 70% output Mei mengikuti formula ini, bukan eksperimen baru.
Marketing Specialist Maiimi
8 Mei
-
A4
Mei treatment as ramp month — set explicit budget cap.
Total spend Mei tidak naik dari Apr (Rp~120M Maiimi). Reallocate: cut Bundling Generic + Naked Under Clouds + General/#NA campaigns. Reinvest ke Live, Bath Bomb, NIB, hero collab.
DoS + CEO
3 Mei
-
A5
Trigger hire Internal Performance Marketing — kondisional.
Aktifkan job opening minggu ini. Onboard hanya jika W4 Mei tidak menunjukkan: (a) Meta-attributed revenue diterima dari MIL, (b) Cost/IC turun di minimal 3 series, (c) GMV Max ROI >8.34. Sourcing duluan, decision belakangan.
CEO + HR
5 Mei (open) — 5 Jun (decide)
-
A6
Klarifikasi scope Mini Maiimi dalam kontrak MIL.
Apakah Mini Maiimi paid media handled oleh MIL, internal, atau separate vendor? Tanpa kepastian ini, Rp62.5M target Mini Maiimi GMV/bulan tidak punya owner performance marketing yang jelas.
DoS + CEO
8 Mei
08
Decision Tree — End of Mei Internal Only
Pre-committed criteria untuk decision continue/stop MIL. Hindari rationalization post-hoc.
Continue MIL → Q2
Semua 4 deliverable Mei terpenuhi: (M1) Meta revenue attribution dilaporkan, (M2) Scale Up Point methodology disclosed, (M3) Incrementality test selesai dengan output kredibel, (M4) Comparison YoY/MoM dipakai.
DAN minimal 2 dari 3 metric performance: GMV Max ROI >8.34, CPAS Shopee ROAS >6.59, Meta Cost/IC turun di ≥3 series.
Hire Internal Performance Marketing tetap berjalan sebagai augmentasi, bukan replacement.
Stop MIL → Internal Takeover
Salah satu dari berikut benar di akhir Mei: (1) Meta revenue attribution masih tidak dilaporkan, (2) Performance metric stagnant atau menurun MoM, (3) MIL menolak transparansi metodologi Scale Up Point.
DAN kandidat Internal Performance Marketing sudah tervalidasi (minimal 1 final interview).
Transition period 30 hari, MIL handover semua campaign assets, audience custom, conversion API setup.
09
Closing — Strategic Note Internal Only
Report MIL W4 secara presentasi adalah report yang baik: visual rapi, narasi jelas, action items konkret. Tapi report yang baik bukan otomatis berarti performance yang baik. Banyak hal yang membuat angka W4 kelihatan bagus berasal dari luar perimeter MIL: payday gajian nasional, momentum collaboration HMNS, halo affiliate yang masih tersisa dari aktivasi Sekduyung sebelumnya.
Yang harus Maiimi waspada bukan apakah MIL kompeten — secara taktis mereka kompeten. Yang harus diwaspadai adalah asymmetry of information: agency punya akses ke data dan punya kepentingan untuk menjaga retainer. Tanpa Maiimi punya kapabilitas internal untuk validate, posisi negosiasi Maiimi lemah secara struktural.
Hire Internal Performance Marketing bukan tentang menggantikan MIL. Ini tentang punya sparring partner internal yang bisa baca report MIL dengan literasi yang setara. Strategic Direction 2026 sudah menulis kondisi hire (overspend >30% dengan ROAS rendah, atau growth >30% konsisten). Realita W4: Meta overspend ya, ROAS Meta tidak terukur, jadi kondisi pertama secara teknis belum terpenuhi karena tidak ada angkanya. Inilah persis kenapa hire-nya perlu.
Mei adalah ramp month sesuai philosophy Maiimi. Pakai ramp month ini bukan untuk diam, tapi untuk membangun infrastruktur measurement. Kalau Q2 mau scale ke Rp25B revenue, foundational measurement harus selesai sekarang — bukan dipikirkan saat sudah scale dan terlambat.
Yang diukur, akan dikelola. Yang tidak diukur, akan menjadi asumsi yang mahal.